Tampilkan postingan dengan label SOSIAL BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOSIAL BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 30 Juli 2011
Seiring Sejalan dalam Perbedaan
MUTIARA PAPUA
Mutiara, potensi yang tersembunyi
dalam warna gelap dan hitamku
Sewaktu saya berjalan bersama kakak yang selalu mengenakan kacamata sehingga terlihat seperti superboy itu mengatakan kepadaku, ” kamu bisa maju dan berusaha entah itu dalam berbisnis atau apa saja tetapi yang membuat kamu terhalang adalah kulitmu. Kulit itu membuat orang tidak percaya karena kulit kamu itu identik dengan ketidakbisaan dan tidak bisa dipercaya. Kaka bisa maju menjadi kulitmu tetapi kamu harus belajar sendiri supaya ada orang Papua yang mampu dan bisa dipercaya”. Kata-katanya seperti menghinaku tetapi saya balik bertanya pada fakta yang terjadi dan itu adalah realita. Ia memberitahuku lagi, ” kamu punya potensi, maka itu belajar teruslah sampai kamu bisa dan banyak orang bisa mempercayaimu”. Dengan memberikan ilustrasi, ” hitam-hitam Kereta Api banyak yang menunggu dari berbagai kalangan karena Kereta Api telah mencuri kepercayaan semua orang dengan mengangkut dan mengantar penumpangnya sampai kepada tujuan mereka, maka kamu juga bisa membawah orang-orang kepada tujuan mereka masing-masing, saat itulah kepercayaan itu berdatangan”.
Kebanyakan orang selalu memandang dan mengutamakan penampilan. Ketika mutiara menampilkan yang tampak atau bagian yang kelihatan darinya, kadang menjadi bagian yang tercemohkan, diabaikan bahkan tidak diperdulikan. Coba aja kalau yang tertampil didepan itu putih kekuning-kuningan yang berkilauan yang memancarkan cahayanya. Pasti mata yang dalampun melotot keluar untuk memandangnya. Tapi semoga saja Aura bisa berbicara jujur dengan pancaran sinarnya dan berpihak kepada siapa ia harus meneranginya.
Saat saya sekolah di SMK Neg. 1 Batubulan di Bali, begitu banyak respon atas butanya pandangan mereka oleh realitas yang hanya terlihat oleh kasat mata teman-temanku. Mereka tidak melihat potensi mutiaraku yang sedang saya perjuangkan untuk dikeluarkan. Dan sedikit dari pucuk potensiku yang sudah ku perlihatkan melalui juara di kelasku. Tetapi mereka mempertebal selubung hitam yang menutupku dengan hinaan, cemoh bahkan mereka meremehkanku bahkan juga dari bibir penghinaan mereka terucap kata-kata menyuruhku pulang saja ke Papua. Tetapi dalam keadaan seperti itu kata-kata pembangkit urat nadi perjuanganku selalu keluar memberitahuku untuk tetap berjuang. Entah siapa yang membisikkan, teriakan itu bangkit terus saat kondisi yang kritis dan melemah sekalipun.
Hal-hal itu adalah bagaimana dunia di sekitar kita yang selalu menghalangi dalam perjuangan mengeluarkan potensi itu. Tetapi berbagai kesadaran selalu muncul bahwa tantangan bukanlah halangan yang merintangi perjalanan panjang menuju pembebasan potensi dari kebodohan, ketiadaan bahkan kemelaratan dan jalan yang buntu.
Kata-kata yang selalu terucap dari relung hati untuk memotivasi diriku adalah, “ hitam bukan berarti kegelapan yang harus tengelam di antara putih-putih tetapi dalam hitamnya mutiara tersembunyi potensi tak ternilai yang bermakna kekal”. Kalimat ini selalu membangkitkan nyali dan semangat juang dari berbagai respon atas betapa gelapnya mutiara diriku.
Kawan-kawan sekelasku, mereka tidak mengerti apa fungsi warna hitam dalam penerapannya. Padahal di kelas satu kita sudah mempelajarinya. Warna hitam selalu memberikan penekanan atau volume pada sebuah karya seni supaya karya terkesan kedalaman dan berisi. Sebenarnya dalam kelas itu, saya memberikan volume dan isi namun keberadaanku adalah isi yang tidak dianggap.
Tuhan yang Mahakuasa datang ke dunia dari surga yang abadi hanya untuk menyelamatkan mutiara kekekalan yang tersembunyi dibalik hitamnya dosa yang menyelubungi manusia. Kalau saja Tuhan melihat dosa manusia yang hitam pekat, untuk apa datang membasuh kotoran dosa dengan darah kudus yang tanpa noda dengan kematianNya di salib?. Itu semua hanya karena ada nilai, makna dan rupa kekekalan Tuhan di dalam diri kita manusia sehinga potensi kekekalan ini perlu diselamatkan.
Dalam lambang-lambang warna, warna hitam memberi pengertian bahwa hitam melambangkan kematian, kegelapan, kesungghuan, kekal dan berat. Artinya mati untuk menunaskan benih kekal dan kegelapan artinya benih yang kita tanam kadangkala tidak memperlihatkan tunasnya tapi dengan berjalannya waktu hitam selalu membuktikan dirinya sungguh-sungguh kekal dan akan menghasilkan sesuatu yang berbobot, berisi padat atau berat.
Melalui semua selubung yang berlapis menumpuk tidak menciutkan nyali juang hidupku tetapi hal-hal tersebut memperbesar mutiara karakter hidup melalui nilai-nilai kesabaran, ketekunan, kesetiaan dan fokus pada tujuan serta kasih dalam persahabatan yang ku jalin dengan sahabat-sahabatku dalam penghinaan mereka yang semestinya menjadi penghancur dan perusak mutiaraku, tetapi dalamnya itu kutemukan mutiara menjadi semakin besar yang bermakna dan semua orang tunduk tak berbicara ketika terlihat bukti dirinya adalah mutiara sejati.
Mutiara sesuatu yang gelap dan dipandang remeh ketika potensi, kapatitas dan lambang kemewahan itu diselubungi hitam yang gelap. Karena hitam mutiara diabaikan dan tidak dianggap. Dianggap representasi dari kegelapan, dianggap sampah tetapi sesungguhnya adalah mengandung nilai, fungsi dan makna yang berharga dan abadi bagi yang memilikinya.
Ellya alexander tebay
SIAPAKAH? Pemegang Kuasa dan Kendali Rakyat Nabire Esok.
Mempersiapkan diri adalah penting sekali dalam segala hal sebelum menghadapi segala sesuatunya, tepatnya sedia payung sebelum hujan. Kondisi itulah yang sedang di alami Kabupaten Nabire, dimana setiap kandidat yang akan menjadi bakal calon bupati mulai mempersiapkan diri. Karena akan melewati tahapan proses yang panjang dalam pemilihan siapa yang akan memimpin dan memegang kuasa rakyat atas kabupaten Nabire kedepan setelah A.P. You dengan masa jabatan kepemimpinannya berakhir.
Kepemimpinan menjadi persoalan penting yang harus dibicarakan secara serius dengan pemikiran yang kritis dari semua kalangan. Karena mereka yang akan memimpin masyarakat yang begitu banyak dari berbagai kalangan. Baik buruknya rakyat, tergantung dari kepemimpinan seorang pemimpin. Setiap keputusan, pilihan dan jalan yang di ambil dan ditempuh seorang pemimpin, di situlah rakyatnya akan mengikutinya. Pemimpin adalah Nahkoda sebuah kabupaten selayaknya Nakhoda kapal.
Setiap kandidat memiliki masa pendukung dan memiliki perahu partai. Maka dalam kompetisi ini, semua kekuatan akan dikerakkan untuk memperjuangkan dan menjagokan kandidatnya masing-masing. Peluang terjadinya ego dalam mempertahankan diri dan dari para pendukungnya mulai sekarang harus diantisipasi dari semua pihak. Setiap calon bupati harus maju dengan jiwa besar. Yang berjiwa kerdil, untuk sementara waktu harus menahan diri untuk mempersiapkan di periode yang akan datang. Karena egosentrisme bisa mengakibatkan hal yang tidak di inginkan bersama.
Seorang bakal calon pemimpin harus bisa menguasai diri dan bisa mengendalikan diri sebelum menjadi pemimpin. Mengapa demikian?. Rakyat yang begitu banyak punya kuasa, akan dipercayakan kepada pemimpin yang akan terpilih untuk dikendalikan olehnya. Lalu bagaimana bila pemimpin yang terpilih tidak bisa menguasai diri?. Itu persoalan yang harus dipahami oleh rakyat, lebih khusus lagi rakyat kecil yang kuasa mereka akan diserahkan kepada siapa yang akan mereka pilih sebagai pemegang kuasa kepemimpinan atas mereka.
Kuasa itu ibarat tali yang mengikat rakyat. Maka tali pengikat rakyat itu akan kita serahkan ke tangan siapa?. Karena nyawah rakyat ada di tangannya, artinya dalam genggaman dan dalam kendalinya. Bila kuasa kendali ada di tangan orang yang kita serahkan kuasa itu untuk menguasai dan memimpin rakyatnya, maka ia yang mengendalikan jalan hidup rakyatnya. Mati atau hidup, menderita atau kehidupan yang layak, lapar atau kenyang, sakit atau sehat, daerah nabire menjadi tempat judi, pelacuran atau tempat beredarnya MIRAS semua tergantung pemimpin yang dipilih. Karena kuasa untuk mengatur rakyat dan daerah yang kita tempati sudah akan kita serahkan ke tangan kendalinya melalui pemilihan langsung nanti.
Menyimak penjelasan di atas terlihat jelas, bila pemimpinnya diktaktor maka rakyat sedang memilih dan menyetujui untuk dipimpin dengan diktaktornya, bila pemimpin itu pembunuh maka rakyat sedang menglegitimasinya melalui pemilihan untuk dia yang membunuhnya tetapi pemimpin yang masyarakat pilih itu suka memperkosa rakyat maka rakyatnya sedang menyetujuinya untuk rakyat diperkosa olehnya. Kenapa demikian?, karena kuasa dan kendali rakyat sudah di serahkan melalui pemilihan dan penentuan siapa yang akan memimpin kita selama lima tahun ke depan. Jadi selama lima tahun hidup rakyat apakah makmur, sejahtera, aman dan damai atau mungkin sebaliknya terganntung pemimpin rakyat itu.
Rakyat harus waspada dan dengan jeli memahami kriteria yang jelas tentang pemimpin yang benar, yang terbukti kinerjanya selama ini untuk dipilih. Karena bila salah memilih maka rakyat bisa masuk dalam perangkap kekuasaannya. Karena kekuasaannya adalah jerat bagi rakyat.
Bila memperhatikan fakta kebanyakan pemimpin selama ini dengan gembar-gembor mengkompanyekan program yang menjadi kebutuhan mendesak rakyat dan atas nama rakyat dan dari rakyat menjadi pemimpin. Tetapi apakah selama ini pengaruh dari hasil kompanye benar-benar tersentuh dan dirasakan sampai ke rakyat jelata. Yang selama ini terjadi adalah oleh kepentingan sendiri lalu bertindak demi dan atas nama rakyat, yang akhirnya menjadi korban adalah rakyatnya yang tidak tahu apa-apa.
Maka setiap hukum serta aturan yang dibuat hanya perpanjangan tangan kekuasaannya untuk menggorok dan menjerat rakyatnya. Hati-hati dengan peraturan yang dibuat yang seolah kepentingan umum untuk ditaati namun tersembunyi jebakan yang memasukkan kedalam perangkap untuk membuat rakyatnya hidup dalam penderitaan.
Menyikapi persoalan kepemimpinan di Nabire ke depan, Derek Tekege S.Sos menyampaikan dalam pertemuan sebuah diskusi bahwa, ” kita jangan takut dengan masa depan pemimpin kita di Nabire, Tuhan Yang Mahakuasa sudah mengatur dan menentukan masa dan saat waktunya siapa yang akan menjadi pemimpin. Yang menjadi tugas kita umat manusia adalah persiapkan diri kita yang mau jadi pemimpin dengan kemampuan bekal rohani, mentalitas, pengetahuan, kemampuan kita bekerja. Dengan semua itu bisa mempengaruhi orang lain, karena itu semua yang dapat dinilai manusia, tetapi Tuhan menilai hati seseorang. Jadi manusia bisa meneyediakan beberapa bakal calon atau kandidat bupati dan memperjuangkannya serta menduga-duga siapa yang akan menjadi bupati, tetapi yang mengambil keputusan untuk menentukan dan terpilih itu adalah urusan Tuhan. Maka bila satu orang yang terpilih itu, maju jadi pemimpin maka yang lain harus mendukung dengan jiwa besar, jangan menjatuhkan”. Ungkapnya. Lalu beberapa selang waktu kemudian Derek Tekege S.Sos juga menghimbau bahwa, ” kita harus memiliki pemimpin yang takut akan Tuhan dan penuh dengan belas kasihan yang benar-benar bekerja untuk rakyat selama ini sebagai bukti dengan pelayanan terhadap masyarakat yang optimal”. Jelasnya dengan nada serius.
Pemimpin seperti diatas dengan kuasa rakyat yang di milikinya akan berkuasa dan memegang kendali rakyat dalam kehendak dan di bawah wibawah dan otoritas takut akan Tuhan. Tanpa adanya takut akan Tuhan dalam hati maka sikap dan perilaku akan membahayakan, dimana akan terjadi berbagai manipulasi yang mengatasnamakan rakyat namun implementasinya bukan berujung pada pemenuhan kebutuhan dan kepentingan rakyat tetapi masuk dalam kebutuhan perutnya dan kepentingannya sendiri.
Dalam pertemuan lain Derek Tekege S.Sos menyampaikan bahwa,” supaya tidak terjadi kesimpangsiuran kepemimpinan maka ada beberapa syarat yang harus di perhatikan oleh setiap calon yang sedang mempersiapkan diri, yaitu pertama ia bisa melanjutkan beberapa program pembangunan Gerban Nun Biru yang memang bagus terbukti sukses dalam pembangunannya. Kedua, yang masih bekerja aktif dengan setia dari dulu sampai sekarang di kabupaten nabire karena ia yang tahu keadaan dan kondisi Nabire. Ketiga, yang mau meninggalkan nama baik kepada anak-anaknya, keluarganya dan generasi penerusnya juga rakyatnya. Bukan meninggalkan harta, mobil yang mewah, rumah mewah dan tanah yang banyak, itu semua akan nyengat dan karat tidak bertahan lama kerena hasil rampok dengan kuasa posisi, padahal itu miliki rakyat. Tetapi nama baik karena kebaikan yang dibuat akan diwariskan dan dikenang selamanya. Keempat, pemimpin yang mau habis-habisan bangun Nabire dan habiskan sisa hidupnya di Nabire. Kelima, memiliki wawasan luas yaitu wawasan nasionalisme Papua dan nasionalime keindonesiaan bukan kedaerahan, kesukuan yang kolot. Supaya mampu memimpin dengan kepentingan rakyat banyak bukan atas kepentingan segelincir orang yang memanfaatkan nama rakyat ” . Papar bapak tiga orang anak yang kesehariannya bekerja di kantor BAPEDA, namun sekarang lagi sedang melanjutkan studi tugas belajar untuk ambil masternya salah satu Universitas di Jakarta.
Demikian pentingnya pemimpin itu maka diharapkan kepada semua komponen masyarakat untuk menentukan pilihan yang tepat, kalau bisa sebelum memilih berdoa terlebih duhulu, supaya dengan hati yang tenang, dengan pasti dan dengan petunjuk yang Mahakuasa bisa memilihnya dengan keyakinan yang mantap. Jadi Rakyat wae…kopu kuasa mau ko kasih ke tangan siapa?. Karena kepada siapa ko kasih, dia yang akan mengendalikan ko.
ellya alexander tebay
Penulis adalah pengamat seni kehidupan.
Peranan Yang Terhilang, Potensipun Terhilang HILANGLAH GENERASI BERBUDAYA
Pengarunian potensi manusia oleh Sang khalik harus menjadi perhatian utama. Yang baru terlahir harus menjadi perhatian bagi yang lahir terdahulu. Disinilah peran orang tua memainkan peranan dan fungsi orang tuanya sebelum maupun sesudah anak itu bersekolah. Tugas orang tua tidak semata hanya membesarkan tetapi bagaimana mendidik anak memperlihatkan potensi yang dimilikinya lalu bagaimana cara mengembangkannya. Karena pendidikan yang ada di rumah adalah pendidikan yang paling dasar dan fundamental untuk pembentukan otak maupun mental karakternya. Tetapi faktanya sangat disayangkan peranan orang tua di Papua tidak semaksimal berperan dalam mendidik anak-anak mereka untuk dipersiapkan menjadi anak yang hebat dan pintar. Hal ini diakibatkan oleh paling termiskinnya pendidikan orang tua di Papua sehingga mengalami kesulitan mendidik anak-anaknya secara maksimal.
Kurang adanya peranan, dukungan dan perhatian dari orang-orang yang berkompoten dalam mempersiapkan generasi muda yang berkompotensi ini maka kemudian dengan sendirinya tercipta proses pembiaran tanpa disengaja maupun disengaja akibat ketidaktauan dan kebodahan mengakibatkan penemuan jati diri anak terlantar ini kearah yang negatif. Karena terbiarkan dan terabaikannya maka matilah potensi mereka karena pergaulan mereka yang diisi dengan kenakalan, obat-obatan terlarang dan minuman-minuman keras yang ada di Papua, yang merajarela baik karena sistem yamg mengatur, kelompok, maupun karena tidak adanya pembentukan oleh pendidikan yang memadai di rumah.
Begitupun juga kurangnya pendidik-pendidik yang sesuai bidangnya masing-masing disekolah-sekolah yang ada di Papua membuat anak-anak tidak menemukan diri mereka disana. Yang ada hanya pendidikan yang bersifat copy paste, bukan pendidikan yang dikembangkan berdasarkan dan dilatarbelakangi kapabilitas atau suatu kecakapan yang dimiliki seseorang yang harus dididik. Disinilah peran Dinas Pendidikan memainkan perannya untuk melihat dan menempatkan guru-guru yang tepat pada tempat yang tepat. Dan mencari tenaga guru-guru dan menyekolahkan guru-guru yang bidangnya belum ada. Dengan demikian maka materi yang tepat akan tersalur dan tersampaikan pada orang atau siswa didik yang tepat sehingga terangkullah potensi yang dimilikinya, bila peranan ini dijalankan maka tidak akan terjadi lost potention yang akhirnya bermuara pada lost people dan lost culture seperti yang sedang terjadi di Papua.
Bagaimana dinas mempersiapkan guru seni budaya, padahal Papua yang kental dengan seni dan budayaanya, namun tidak ada materi seni budaya yang dapat diajarkan disekolah-sekolah. Di setiap sekolah tidak ada guru-guru yang berkompoten untuk mengajarkan seni budaya sehingga mengalami kekosongan guru-guru tersebut, padahal dalam kurikulum KTSP 2006 mengatur bahwa guru Seni Budaya harus ada mata pelajaran seni rupa, seni musik, seni tari, dan seni teater. Berarti disetiap sekolah guru pengajar seni itu seharusnya ada empat orang guru yang mengajar dengan bidangnya masing-masing.
Melihat fakta di lapangan tidak ada satu orang guru seni budaya di Nabire bahkan di Papua maupun Indonesia secara menyeluruh agak sulit ditemukannya. Setiap program yang selalu dikeluarkan pemerintah terlihat bahwa itu hanya formalitas tanpa mempersiapkan tenaga-tenaganya yang akan bekerja di lapangan. Padahal devisa yang dihasilkan negara melalui seni budaya dan pariwisata adalah urutan kedua setelah Minyak.
Perhatian terhadap seni budaya yang memberi sumbangsi besar bagi bangsa menjadi terabaikan dan terluput dari perhatian. Hanya dijadikan sapi perahan yang hasilnya di ambil atau lebih tepat lagi habis manis sepak dibuang tanpa perhatian khusus. Inilah mental bangsa kita yang mengabaikan hasil seni budaya dan produk-produk dalam negri yang lebih bersifat konsumtif.
Sistem Rekrutmen CPNS
Yang harus menjadi topik pertanyaan adalah apakah perekrutan CPNS formasi 2008 ini, sesuai dengan kebutuhan atau asal nutupi hutan formasi 2008 agar secara formalitas sudah pernah dilakukan. Dan apakah ada kerjasama antara dinas-dinas terkait lainnya untuk memintah keterangan akan kebutuhan data pegawai yang harus dibutuhkan dilapangan sehingga data itu bisa diformasikan dalam pengangkatan ini. Dari apa yang sudah diformasikan pada formasi 2008 yang sedang diadakan 2009 ini, jelas terlihat bahwa tidak ada koordinasi antara dinas BKD dengan dinas lain yang membutuhkan tenaga kerja.
Formasi tidak berdasarkan kebutuhan lapangan karena kebutuhan daerah lebih dari yang diformasikan. Dapat disimak bahwa di lapangan banyak sekolah yang haus akan hadirnya guru-guru bidang studi seni budaya, komputer, olahraga, matematika, fisika, kimiah dan masih banyak lagi kebutuhan pegawai di kantor-kantor yang lainnya. Karena yang mengisi bidang-bidang tersebut diatas adalah guru yang bukan di bidang studi tersebut. Cobalah sebelum perekrutan dan memformasikan ada bentuk sosialisasi dengan dinas-dinas lalu dari dinas disampaika kepada kepala-kepala sekolah dan kantor dibawahnya sehingga perekrutan ini bisa mengisi tempat dan posisi yang masih kosong tersebut.
Kekosongan sesuai bidang-bidang di atas terjadi bukan karena memang tidak adanya orang-orang tersebut tetapi sistem perekrutan yang tidak pernah sesuai dengan sistem dan aturan. Karena anak-anak muda asli Papua lulusan dari luar pulau maupun lulusan Papua sendiri yang sedang jobless atau menganggur sangat banyak. Mereka diterlantarkan oleh sistem perekrutan yang tidak benar dan tidak pernah berpihak pada orang asli Papua. Orang Papua hanyalah sampah berharga yang terlantar dan terabaikan yang sedang mati perlahan-lahan secara bertumpuk-tumpuk di negrinya selain kekayaan mereka yang sedang dirampas. Selain itu perekrutan yang tidak memihak pada orang papua dengan memberikan prioritas dari sekian presentase yang direkrut menjadi CPNS.
Maka kami berharap semoga tidak ada permainan kotor yang merugikan banyak pihak demi kepentingan sesaat dan kepentingan segelincir orang yang membuat matinya orang-orang berpotensi. Berikan kesempatan bagi orangyang berkapabilitas untuk merealisasikan potensinya di lapangan sesuai bidang mereka. Harapan banyak orang akan keadilan, mendapatkan kesempatan yang sama, perlakuan yang adil bisa terwujud pada formasi 2008 ini. Salam.
ellya alexander tebay
Penulis adalah pemerhati dinamika kehidupan seni, sosial budaya dan pariwisata.
Langganan:
Postingan (Atom)

